running text

Jumat, 15 Januari 2016

(Semoga Menjadi) Solusi Kekalutan :)

(Semoga Menjadi) Solusi Kekalutan[1]
Oleh: Muhammad Hidad Abdillah (@hidad_abd)
Santri PP. Al-Qur’an Al-Falah II Nagreg
Sebenarnya, ketika kita bertanya “apa solusinya?”, kadang sebenarnya kita tahu jawaban yang paling tepat untuk ‘pertanyaan’ kita. Karena sesungguhnya, kita yang paling tahu seluk-beluk tentang apapun yang kita hadapi. Kadang kita hanya menyambung-nyambungkan hal-hal yang ingin terjadi setelahnya dengan pernyataan orang—itu pun dipilah, mana pernyataan yang mendukung keinginan kita, baru kita menjadikannya dorongan (lebih tepatnya alasan/motif), baru kita melangkah lagi, dengan langkah, seolah ada orang yang mendukung kita dari belakang, dan menyoraki tiap langkah kita “semangat.. semangat!” nyatanya tidak. percayalah, hanya mereka, orang-orang tulus—yang sudah bebas dari kepentingan yang bisa mendorong kita dengan sebenar-benarnya, dan yang paling mungkin adalah orang tua dan guru-guru kita.
Kejadian (K) + Tanggapan (T) = Hasil(H)
Juga sering kali, kita juga lupa memasang cermin didepan diri kita ketika kita menghadapi suatu keadaan, kita kadang lupa, bahwa kejadian (K) dan tanggapan (T) itu berbanding lurus dengan hasil (H). Hasil disini yakni apa yang nampak di depan kita sekarang, tak akan ada hasil, jika sebelumnya tidak ada kejadian dan tanggapan—kecuali dalam beberapa hal[2]. Idealnya, sebelum kita bertanya “kenapa kok seperti ini?”, telaahlah terlebih dahulu, apa kejadian sebelumnya yang kita alami? Bagaimana kita menghadapinya? Apa kita melakukan langkah yang benar? Atau cenderung salah?
Berbicara tentang ilmu, saya rasa ilmu itu bersifat umum, bahkan sebagian orang alim mengatakan bahwa pada zaman nabi pun, ilmu itu tidak dikotak-kotakkan seperti pada zaman sekarang. Namun, pada masa setelah itu, baru ilmu dicacah sesuai bidang garapan dan tujuan pengamalannya, ini dilakukan untuk mempermudah orang mempelajari ilmu yang ‘satu’ itu, sekali lagi saya tegaskan bahwa pencacahan itu bukan untuk menghentikan langkah orang-orang yang terlanjur terpuruk mendalami ilmu, melainkan untuk mempermudah orang yang mempelajari ‘ilmu’, barangkali orang mau mendalami satu persatu ilmu dan tidak akan mempelajari ilmu lain sebelum ilmu itu benar-benar terkuasai, lalu barangkali orang akan fokus kepada bidang ilmu kesukaannya dan menjadikan bidang ilmu lain sekedarnya saja. Dan masih banyak kemungkinan sikap-sikap lainnya.
Maka jika kita cenderung terpuruk dan mengeluh karena (salah satu bidang) ilmu yang kita dalami tak kunjung terkuasai, malulah kepada beliau-beliau telah bersusah payah mencacah dan menyusun kerangka ilmu untuk generasi setelahnya (kita). Beliau-beliau yang beroptimis bahwa ilmu hasil temuannya suatu saat akan ada yang mendalami, akan ada yang meneruskan, akan ada yang mengembangkan.
Untuk selanjutnya, untuk kita yang punya tujuan, kita yang punya daftar pencapaian-pencapaian yang dibuat (tentu) agar sebagian besar diwujudkan, mau kemana kita? Maka bergeraklah!
Pojok Pondok Kendan, 16 Januari 2016


[1] Judul terilhami dari maraknya keluhan keluhan pemuda-pemudi penerus bangsa (khususnya) di sosial media
[2] Kecuali dalam berbagai contoh pembahasan, seperti mengenai Ketuhanan, dan hal-hal lain yang pantas dikecualikan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar


Dikutip dari: http://ade-tea.blogspot.com/2011/12/widget-clock-islami-allahuakbar.html#ixzz2BEU0emH0