running text

Kamis, 14 Januari 2016

Sebuah Ibrah dari Kasus 'Bom Sarinah'


Islam Sebagai Ajaran, Pemahaman, dan Pengamalan
Oleh: Muhammad Hidad Abdillah (@hidad_abd)
Santri di PP. Al-Qur’an Al-Falah II Nagreg


Setelah mendengar kabar kasus pengeboman di daerah Sarinah, jalan Thamrin, Jakarta, kemarin (14/01/16). Dalam khutbahnya, Ustadz Yuyun Wahyudin menerangkan tentang Islam yang dicacah kepada tiga, yaitu Islam sebagai ajaran, Islam sebagai pemahaman dan Islam sebagai pengamalan.
Islam sebagai ajaran, merupakan Islam murni yang tertera dalam Al-Qur’an yang belum tersentuh pemikir-pemikiran manusia, yang jika Al-Qur’an berbicara tentang (contoh): “ketika engkau telah shalat, maka basuhlah wajah dan kedua tanganmu (isyarat untuk wudhu)”[1] memang benar, bila ayat ini dipahami secara bahasa, artinya memang seperti ini. Maka akan menyimpang bila Al-Qur’an ‘ditelan mentah-mentah’ oleh orang yang kurang pemahamannya. Setelah diketahui demikian, maka memang diperlukan ‘sentuhan’ pemikiran manusia dalam memahami ajaran Islam yang dibawa Al-Qur’an.
Maka diadakanlah Islam sebagai sebuah pemahaman, yaitu ajaran Al-Qur’an yang telah dielaborasi dengan pemikiran-pemikiran para ulama. Isyarat Ayat tadi tidak dipahami ‘tanpa sentuhan’, melainkan dipadu padan kan dengan hadis-hadis, ijma’ dan qiyas, maka didapatlah pemahaman bahwa wudhu itu dilakukan sebelum melaksanakan shalat dan disusunlah syarat syarat, rukun-rukun dan hal-hal yang dapat membatalkannya.
Setelah Islam sebagai ajaran dan Islam sebagai pemahaman, pencacahan ketiga yaitu Islam sebagai pengamalan, yakni ketika Islam yang telah dipahami itu telah menjadi bentuk amaliyah. Itu yang disebut Islam sebagai pengamalan.
Maka apa kaitan keganya dengan kasus Bom Sarinah? Dapat kita tarik benang merah bahwa ajaran Islam yang hanif, acapkali dipahami oleh ‘kepala yang salah’ sehingga ajaran Islam yang sesungguhnya membawa seruan ‘Rahmatan lil-aalamiin’ , dipahami tidak tepat karena konsep ‘jihad’ dipahami setengah-setengah.
Padahal dalam Al-Qur’an dikatakan bahwa ‘Inna ad-diina ‘inda Allahi Al-Islam’, yang jika dipahami dari sudut pandang kebahasaan, Islam itu berarti menyerahkan diri sepenuhnya, tidak setengah-setengah kepada Allah, Sang Pencipta.
Pemahaman ‘jihad’ versi mereka yang mengaku orang Islam yang sedang menjalankan ‘amaliyah jihad’-nya dalam kasus Bom Sarinah ini bahkan bukan dikatakan lagi sebagai pemahaman yang kurang tepat, bahkan bertolak belakang dengan ajaran Islam yang sebenarnya, Islam Rahmatan lil-aalamiin. Wallahu a’lam.

Pojok Pondok Kendan.
Jumat, 15 Januari 2016


[1] Kebiasaan orang Arab seringkali menyatakan sesuatu yang dilakukan sebelum, dikatakan seolah-olah terjadi setelah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar


Dikutip dari: http://ade-tea.blogspot.com/2011/12/widget-clock-islami-allahuakbar.html#ixzz2BEU0emH0