(Semoga
Menjadi) Solusi Kekalutan[1]
Oleh: Muhammad Hidad Abdillah (@hidad_abd)
Santri PP. Al-Qur’an Al-Falah II Nagreg
Sebenarnya, ketika kita
bertanya “apa solusinya?”, kadang sebenarnya kita tahu jawaban yang paling
tepat untuk ‘pertanyaan’ kita. Karena sesungguhnya, kita yang paling tahu
seluk-beluk tentang apapun yang kita hadapi. Kadang kita hanya
menyambung-nyambungkan hal-hal yang ingin terjadi setelahnya dengan pernyataan
orang—itu pun dipilah, mana pernyataan yang mendukung keinginan kita, baru kita
menjadikannya dorongan (lebih tepatnya alasan/motif), baru kita melangkah lagi,
dengan langkah, seolah ada orang yang mendukung kita dari belakang, dan
menyoraki tiap langkah kita “semangat.. semangat!” nyatanya tidak. percayalah,
hanya mereka, orang-orang tulus—yang sudah bebas dari kepentingan yang bisa
mendorong kita dengan sebenar-benarnya, dan yang paling mungkin adalah orang
tua dan guru-guru kita.
Kejadian (K) + Tanggapan (T) =
Hasil(H)
Juga sering kali, kita
juga lupa memasang cermin didepan diri kita ketika kita menghadapi suatu
keadaan, kita kadang lupa, bahwa kejadian (K) dan tanggapan (T) itu
berbanding lurus dengan hasil (H). Hasil disini yakni apa yang nampak di
depan kita sekarang, tak akan ada hasil, jika sebelumnya tidak ada kejadian dan
tanggapan—kecuali dalam beberapa hal[2]. Idealnya, sebelum kita
bertanya “kenapa kok seperti ini?”, telaahlah terlebih dahulu, apa
kejadian sebelumnya yang kita alami? Bagaimana kita menghadapinya? Apa kita
melakukan langkah yang benar? Atau cenderung salah?
Berbicara tentang ilmu,
saya rasa ilmu itu bersifat umum, bahkan sebagian orang alim mengatakan bahwa
pada zaman nabi pun, ilmu itu tidak dikotak-kotakkan seperti pada zaman
sekarang. Namun, pada masa setelah itu, baru ilmu dicacah sesuai bidang garapan
dan tujuan pengamalannya, ini dilakukan untuk mempermudah orang mempelajari
ilmu yang ‘satu’ itu, sekali lagi saya tegaskan bahwa pencacahan itu bukan
untuk menghentikan langkah orang-orang yang terlanjur terpuruk mendalami
ilmu, melainkan untuk mempermudah orang yang mempelajari ‘ilmu’,
barangkali orang mau mendalami satu persatu ilmu dan tidak akan mempelajari
ilmu lain sebelum ilmu itu benar-benar terkuasai, lalu barangkali orang akan fokus
kepada bidang ilmu kesukaannya dan menjadikan bidang ilmu lain sekedarnya saja.
Dan masih banyak kemungkinan sikap-sikap lainnya.
Maka jika kita
cenderung terpuruk dan mengeluh karena (salah satu bidang) ilmu yang kita
dalami tak kunjung terkuasai, malulah kepada beliau-beliau telah bersusah payah
mencacah dan menyusun kerangka ilmu untuk generasi setelahnya (kita). Beliau-beliau
yang beroptimis bahwa ilmu hasil temuannya suatu saat akan ada yang mendalami,
akan ada yang meneruskan, akan ada yang mengembangkan.
Untuk selanjutnya, untuk
kita yang punya tujuan, kita yang punya daftar pencapaian-pencapaian yang
dibuat (tentu) agar sebagian besar diwujudkan, mau kemana kita? Maka bergeraklah!
Pojok Pondok Kendan, 16 Januari 2016